LIFE SKILL

Matematika, sains, bahasa, mungkin para santri meraih nilai tinggi untuk mata pelajaran di sekolah. Namun, tahukah Anda, jika ada hal lain yang juga penting sebagai bekalnya untuk tumbuh dewasa? Life skill atau kecakapan hidup adalah pelajaran berharga yang akan digunakan anak-anak sepanjang hidup mereka. 

Apa itu life skill?

 Sebenarnya definisi life skill amatlah luas. LIfe skill atau kecakapan hidup merupakan sesuatu yang tidak didapatkan dari nilai akademis di sekolah. Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), ada lima hal mendasar terkait life skill, yaitu:
 
  • Membuat keputusan dan mencari solusi
  • Berpikir kreatif dan kritis
  • Komunikasi dan kemampuan interpersonal
  • Kesadaran diri (self-awareness) dan empati
  • Mengatasi emosi dan stres
tentunya dengan mengajari anak life skill sedini mungkin akan membantu anak tumbuh menjadi anak yang mandiri dan mampu menyelesaikan masalahnya sehari-hari.

Mengajari life skill kepada anak tentu tidak harus kaku dan seperti berada di ruang kelas. Anda bisa melakukannya saat sedang makan malam bersama keluarga. Atau ketika Anda sedang bermain dengannya. Tentunya anak akan lebih mudah memahami jika life skill  ini diajarkan dengan cara yang menyenangkan.

Jenis life skill yang sebaiknya diajarkan pada santri

 Selain para santri perlu memahami tentang pelajaran di sekolah, kini saatnya kami memberinya bekal hidup yang berharga.

Berikut ini jenis life skill yang sebaiknya diajarkan pada santri sesuai tahapan usia:

1. Usia pra-sekolah (2-4 tahun)

Pada usia ini, santri mungkin masih membutuhkan kami mengawasi kegiatan-kegiatan yang Anda ajarkan padanya. Namun seiring berjalannya waktu, ia pun akan menguasai dan terbiasa dengan tugas-tugas yang sederhana. Kuncinya adalah memberinya kepercayaan untuk melakukan sendiri meski hasilnya belum sempurna.

  • Membereskan mainan

mengajak para santri untuk merapikan kembali mainannya ke dalam kotak setelah selesai bermain, menyimpan buku-bukunya di rak, atau memasukkan kembali krayon dan pensil warna ke tempatnya. kami juga bisa memintanya untuk meletakkan baju kotor ke keranjang cucian maupun membuang sampah di tong sampah.

  • Memilih baju sendiri

Tentu saja rasanya gregetan melihat si Kecil memilih kaos garis-garis yang dipadukan dengan celana kotak-kotak. Eits, tahan diri Anda sebelum mengomentari atau memintanya berganti pakaian. Berikan kepercayaan padanya untuk memilih pakaian sendiri setiap habis mandi. Lalu, pelan-pelan ajaklah anak membahas jenis pakaian yang cocok untuk acara tertentu. Misalnya, saat hari hujan dan dingin, sebaiknya kenakan baju lengan panjang. Atau baju rumah sebaiknya dipakai di rumah saja, sementara ketika akan menghadiri acara, gunakanlah baju yang rapi dan bersih untuk menghormati pihak pengundang. Beritahu juga padanya apa kegiatan yang akan dilakukan hari itu sehingga ia akan belajar memilih jenis pakaian yang tepat.

  • Membantu menyiapkan meja makan

Keluarga Anda punya kebiasaan makan malam bersama di meja makan? Ajak si Kecil untuk membantu menata meja dengan meletakkan sendok dan garpu untuk masing-masing anggota keluarga. Biarkan ia memberi tambahan pemanis seperti kartu buatan sendiri atau gambar karyanya. Ia pasti tak sabar menunggu waktu makan malam tiba.

2. Usia 5-7 tahun

Pada usia ini, para santri telah menjelma menjadi penolong yang baik di panti . Ia mulai bisa melakukan beberapa pekerjaan seperti orang dewasa. Anda harus pandai-pandai melihat situasi, kapan membiarkan anak melakukan sendiri dan kapan Anda harus melakukan intervensi membantunya.Memberdayakan para santri  untuk membantu pekerjaan rumah, terutama di masa  seperti ini, amatlah penting. . Membiarkan anak melakukan tugas-tugas harian membuatnya memiliki kontrol terhadap hidupnya. 

  • Membereskan tempat tidur

Kemampuan ini seringkali diabaikan ketika masa sekolah akibat terburu-buru bangun dan bersiap berangkat sekolah. Namun, ketika masa sekolah 

  • Memisahkan pakaian kotor yang akan dicuci

Bila anak sudah terbiasa meletakkan pakaian kotornya di keranjang cucian, kini saatnya ajak ia memilah pakaian kotor. Minta ia mengecek bagian kantong untuk memastikan tidak ada benda-benda lain yang tidak sengaja tercuci. Pisahkan baju berdasarkan warna gelap dan terang. Jelaskan pada si Kecil pentingnya memisahkan pakaian sebelum dicuci, satu kaos kaki kecil berwarna merah bisa mengubah seluruh cucian berwarna putih menjadi pink. 

Usia 8-10 tahun

para santri pada usia ini sudah lebih siap melakukan tugas-tugas yang sebelumnya tidak bisa dilakukan ketika ia masih berusia 7 tahun. Namun sekarang saatnya Anda melihat apakah ia sudah lebih disiplin dalam melakukannya dan tidak perlu diingatkan berulang kali?

  • Mencuci piring

Tak harus mencuci semua piring kotor yang ada di dapur, Anda cukup memintanya untuk mencuci piring makannya sendiri setelah selesai makan. Awalnya, Anda perlu mengawasinya dan memberi arahan. Namun, lama-kelamaan ia akan terbiasa untuk selalu mencuci piringnya setiap kali selesai makan. Bukan tidak mungkin, ia juga akan berinisiatif mencuci semua piring kotor di dapur.

  • Memasak

Bila di usia sebelumnya ia sudah terbiasa menyiapkan sarapan sendiri, kini saatnya mulai percayakan ia menggunakan kompor. Anda tetap perlu mengawasinya dan mengingatkan berulang kali untuk mematikan api setelah selesai menggunakan kompor. Ajari anak keterampilan memasak yang sederhana seperti menggoreng telur, merebus pasta, atau membuat nasi goreng.

  • Berkebun

Banyak hal bisa dipelajari dari kegiatan berkebun seperti jenis-jenis tanaman, mengapa tanaman membutuhkan sinar matahari, hingga serangga yang sering mengganggu tanaman. Minta ia membantu aktivitas berkebun seperti menyiram tanaman, menyiapkan pupuk, hingga mengecek tanaman mana yang membutuhkan perawatan lebih banyak.

4. Usia remaja (11+)

  • Mengatur uang

Bila Anda mulai memberikan uang saku pada anak, cobalah memberinya secara mingguan atau bulanan. Biarkan ia belajar mengelola uangnya sendiri. Mungkin akan sulit awalnya karena ia ingin segera menghabiskan uangnya sejak pertama kali diberikan. Namun, bila ia kehabisan uang di tengah minggu atau tengah bulan, jangan berikan uang tambahan. Biarkan ia belajar dari kesalahannya dan mengatur pengeluaran dengan lebih baik. Minta ia menyisihkan uang untuk ditabung. 

  • Mengecek kebutuhan rumah tangga

Bisakah anak Anda memotong rumput sendiri? Mengganti galon air minum yang habis? Menelepon agen penjual gas saat tabung gas di rumah sudah kosong? Mengecek lampu yang mati dan mengganti bola lampunya? Berbelanja barang-barang kebutuhan rumah tangga? Bila belum, ajari anak secara perlahan. Ia perlu tahu hal-hal penting yang ada di rumah sehingga ketika terjadi masalah di rumah saat Anda sedang tidak ada, ia dapat mengatasinya. Suatu hari, anak Anda akan hidup sendiri dan keluar dari rumah. Bekali ia dengan beragam pengetahuan dalam mengurus rumah sekaligus mengajaknya bebersih dan merawat rumah.

  • Menjaga kebersihan diri

Bila sebelumnya Anda masih terus-menerus mengingatkan anak untuk mandi, menggunakan deodoran, dan merawat kulit, sekarang saatnya ia bertanggung jawab terhadap kebersihan dirinya. Biarkan ia memilih sabun mandi, sampo, dan perawatan tubuhnya sendiri. Anda tak perlu lagi mengingatkan remaja Anda kapan harus mandi. Bebaskan ia untuk memilih waktu mandinya sendiri.

  • Bertanggung jawab terhadap diri sendiri

Cobalah berhenti menyuruh anak membersihkan kamar agar ia boleh bermain game kesukaannya. Sudah tidak perlu ada lagi reward untuk hal-hal yang sudah menjadi kewajibannya untuk dilakukan. Biarkan ia mengatur waktunya sendiri dan menerima konsekuensi bila ia tidak mengerjakan apa yang menjadi tugas-tugasnya. Biarkan si remaja Anda menelepon dokter sendiri ketika akan membuat janji konsultasi, menelepon agen penjual galon air minum dan gas saat di rumah sudah habis, atau menelepon restoran untuk pesan antar makanan. Mengajari life skill pada anak membutuhkan komitmen dan kemauan yang kuat. Mungkin awalnya akan terasa merepotkan, tetapi semua itu akan menjadi bekal yang baik untuk anak saat ia tumbuh dewasa.