CHARACTER BUILDING

Di dalam kehidupan sehari-hari, sering dijumpai perilaku-perilaku yang dilakukan oleh orang-orang di sekitar kita, baik anak-anak, remaja maupun orang dewasa yang menjurus pada perilaku yang bertentangan dengan nilai, tatanan dan norma yang berlaku dalam masyarakat bahkan bertentangan dengan ajaran agama. Anak didik berani menunjukan sikap menentang kepada guru, sudah menjadi hal yang lumrah. Padahal Pendidikan Agama sudah diberikan dari sejak dini kepada anak-anak mulai dari sejak TK, SD, SMP, SMA sampai di tingkat Perguruan Tinggi. Melihat kenyataan ini tentunya kita bertanya-tanya, kenapa hal itu terjadi? Apakah Pendidikan Agama di sekolah-sekolah sudah tidak bisa lagi menjadi penjaga ahlak murid-muridnya? Sudah saatnya seorang guru atau pendidik, khususnya guru PAI di sekolah, dengan tugas pokok dan fungsinya menanamkan akhlaq anak didiknya melalui pembelajaran PAI yang berorientasi kepada pembangunan karakter yang kuat untuk membekalinya menjadi orang yang bermartabat dan terhormat nantinya.

Character Building berasal dari bahasa Inggris yang terdiri dari dua kata, yaitu character dan BuildingCharacter  berarti sifat, watak, karakter. Sedangkan building mempunyai makna membangun, mendirikan. Kata Karakter juga berasal dari bahasa Yunani, yang berarti “to mark”yang mempunyai makna  menandai dan memfokuskan pada bagaimana mengaplikasikan nilai dan kebaikan dalam bentuk tindakan dan tingkah laku.  Oleh sebab itu seseorang yang berperilaku tidak jujur, kejam atau rakus sebagai orang yang berkarakter jelek, sementara orang yang berkarakter jujur, suka menolong dikatakan sebagai orang yang berkarakter mulia. Jadi istilah karakter erat kaitannya dengan personality (kepribadian) seseorang, di mana seseorang bisa dikatakan orang yang berkarakter  jika tingkah lakunya sesuai dengan kaidah moral. Jadi yang dimaksud dengan Character Building adalah membangun watak, karakter, tabiat, sifat atau ahlak dan budi pakerti yang membedakan antara satu individu dengan individu yang lain dalam pergaulan di masyarakat, yang dilakukan oleh seorang pendidik kepada anak didik melalui proses pembelajaran.

Membangun Karakter melalui pendidikan Islam memiliki makna lebih tinggi dari pendidikan moral, karena pendidikan karakter tidak hanya berkaitan dengan masalah benar – salah, tetapi bagaimana menanamkan kebiasaab ( habit) tentang hal-hal yang baik dalam kehidupan, sehingga anak didik mempunyai kesadaran dan pemahaman yang tinggi serta kepedulian dan komitmen untuk menerapkan kebajikan dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan dari pendidikan Islam adalah tercapainya beberapa kompetensi dan beberapa kemampuan yang tertanam dalam diri anak didik. Diantaranya adalah tercapainya kecakapan jasmaniyah, pengetahuan membaca, menulis, pengetahuan ilmu-ilmu kemasyarakatan, kesusilaan, keagamaan, kedewasaan jasmani dan rohani dan lain-lain yang mengarah kepada pembentukan karakter dan kepribadian yang sesuai dengan nilai-nilai agama Islam. Melalui proses pendidikan dan pembelajaran yang panjang ( long life education ), tujuan pendidikan Islam mengkerucut terhadap terbentuknya kepribadian dan karakter yang semua aspek tersebut direalisasikan dan diwujudkan dengan sikap dan tingkah laku yang sesuai dengan nilai-nilai agama Islam.

Aspek-aspek karakter dan kepribadian tersebut antara lain, pertama aspek-aspek jasmaniyah yang meliputi perilaku dan sikap luar yang mudah dilihat dari luar seperti, cara bicara, cara berbuat dll. Kedua adalah aspek kejiwaan yang meliputi cara berfikir, sikap,  dan minat. Ketiga aspek-aspek kerohanian yang luhur yang meliputi aspek-aspek kejiwaan yang lebih abstrak, yaitu filsafat hidup dan keyakinan. Ini mencakup system nilai-nilai yang telah meresap di dalam kepribadian yang mengarahkan dan memberi corak seluruh kepribadian individu yang berorientasi tidak saja pada kehidupan di dunia tetapi juga terhadap kehidupan di akhirat. Aspek-aspek inilah yang mempengaruhi kualitas kepribadian individu secara keseluruhan, yang akan membentuk insan kamil, beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, yang tercermin di semua lini kehidupan.

 

Charakter Building, sebagai tanggung jawab bersama.

Era globslisai, yang sekarang sedang dirasakan oleh bangsa Indonesia sangat berpengaruh terhadap pembentukan watak, tabiat, ahlaq dan akarakter anak didik. Globalisasi dapat diartikan sebagai proses saling beruhubungan yang mendunia antar individu, bangsa dan Negara serta berbagai organisasi kemasyarakatan terutama perusahaan. Proses ini dibantu dengan berbagai alat komunikasi dan transportasi yang berteknologi tinggi, canggih dan dibarengi dengan kekuatan politik dan ekonomi serta kekuatan nilai-nilai sosial budaya yang saling mempengaruhi.

Arus globalisasi paling tidak mempunyai dua dampak terhadap kehidupan bermasyarakat di Indonesia, yaitu dampak positif dan dampak negative. Dampak positif dari arus globalisasi diantaranya adalah dapat mendidik masyarakat untuk memiliki pola pikir cosmopolitan dan pola tindak kompetitif, suka bekerja keras, mau belajar untuk meningkatkan ketrampilan dan prestasi kerja. Sedangkan dampak negative dari arus globalisasi diantaranya adalah munculnya perilaku konsumtif, maraknya konflik sosial, adanya tindakan-tindakan kriminal, perilaku yang eksklusif dan primordial. Untuk mengantisipasi lebih meluasnya dampak negatif dari arus globalisasi inilah kiranya perlu adanya rumusan dan konsep serta paradigma baru pendidikan yang integral dan mampu menjawab tantangan-tantangan yang dibutuhkan oleh masyarakat luas yang dilakukan oleh para pemegang kebijakan pendidikan di Indonesia.

Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan aktualisasi pendidikan nasional yang baru dengan berprinsip kepada, pertama, partisipasi masyarakat di dalam mengelola pendidikan, kedua demokratisasi proses pendidikan, ketiga sumber daya pendidikan yang professional, keempat sumber daya penunjang yang memadai, dan yang kelima membangun pendidikan yang berorientasi kepada kualitas individu berbasis karakter.

Paradigma baru Pendidikan di atas mengisyaratkan bahwa tanggung jawab pendidikan  tidak lagi dibebankan kepada sekolah tetapi merupakan tanggung jawab bersama dengan melibatkan masyarakat, dalam arti sekolah dan masyarakat bekerja sama untuk bersama-sema meningkatkan mutu pendidikan. Dalam paradigma baru pendidikan ini, masyarakat yang selama ini pasif terhadap terhadap pendidikan ditantang untuk menjadi penanggung jawab pendidikan. Tanggung jawab ini tidak hanya sekedar memberikan sumbangan untuk pembangunan gedung sekolah dan membayar uang operasional sekolah, akan tetapi yang lebih penting masyarakat di tantang dan dilibatkan untuk turut serta menentukan jenis pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan termasuk meningkatkan mutu pendidikan dan memikirkan kesejahteraan tenaga pendidik agar dapat memberikan pendidikan yang bermutu kepada peserta didik.

Hal tersebut bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilaksanakan karena banyak kendala yang mempengaruhinya, antara lain pertama bagi masyarakat ini adalah hal yang baru sehingga perlu proses sosialisasi, kedua bagi masyarakat yang tinggal di kota besar yang tingkat pendidikan dan ekonominya relatif lebih baik tidaklah sulit meyeleksi orang-orang yang duduk dalam tanggung jawab ini, ketiga bagi masyarakat desa akan menemui kesulitan karena tingkat pendidikan dan ekonominya relatif rendah.

 

Tiga Pilar  Pendidikan Pembentuk Karakter

Ada tiga tempat sebagai basis kekuatan pendidikan, yaitu sekolah, rumah dan masyarakat. Lembaga pendidikan di rumah sudah jelas yaitu rumah sebagai tempat tinggal seseorang, yang meliputi ayah, ibu dan anak yang merupakan tempat atau madrasah pertama bagi anak dalam membentuk karakter, kepribadian dan mendapatkan ilmu sebelum sang anak mendapatkanya di luar. Lembaga pendidikan sekolah adalah sekolah dengan berbagai macam tingkat dan jenis yang disediakan oleh pemerintah maupun swasta yang bertujuan untuk menyalurkan bakat minat dan ketrampilan serta membantu mengarahkan dan membentuk karakter anak didik agar menjadi anak yang baik sesuai dengan nilai-nilai yang luhur. Adapun lembaga pendidikan yang berlaku di masyaraat adalah di lembaga-lembaga masyarakat, seperti koperasi, penjara, kepolisian, pengadilan, organisasi politik, berbagai lembaga swadaya masyarakat dan lingkungan masyarakat yang berpengaruh besar terhadap pembentukan karakter bangsa.